Wednesday, October 28, 2009

Beratnya Untuk Konsisten

Ada yang bilang, kita itu selalu Konsisten Untuk Selalu Inkonsisten. Ya, mohon dimaklumi jika pernyataan itu muncul. Memang berat untuk selalu konsisten.

Konsisten ini bisa berarti luas, konsisten dalam hal pemenuhan janji, atau konsisten dalam menjaga irama semangat.

Setiap hari kita akan berada dalam semangat berbeda. Hari ini mungkin kita bisa sangat bersemangat sekali menjalaninya. Tetapi belum tentu di esok hari. Bisa jadi semangat kita anjlok secara tiba-tiba.

Mungkin urusan rumah bisa sangat berpengaruh. Atau bisa pula pekerjaan yang belum terselesaikan.

Problemnya adalah saat kita berinteraksi dengan pihak eksternal. Mereka belum tentu memahami kondisi kita saat itu. Kalau situasi seperti itu muncul ya mau tidak mau kita harus menghadapinya. Caranya? Bersandiwara!

Pintarlah bersandiwara karena tidak semua orang bisa menerima sikap kita yang sebenarnya. Atau bahasa gaulnya 'ngeles'.

Nggak salah kok kalau kita 'ngeles'. Toh ada kata yang sepadan dengan 'ngeles' yakni 'berargumen'.

Dan semakin tinggi posisi pekerjaan kita, percayalah bahwa kita dituntut untuk semakin pintar berargumen!

Friday, October 23, 2009

Samsung C6625, Tuts Nyaman Battery Lemah

Hampir 3 bulan ini saya menggunakan Smart Phone keluaran produsen dari negeri Ginseng, yakni Samsung C6625. Alasan kenapa saya memilih model ini karena di jajaran produk Smart Phone, model ini termasuk yang termurah harganya, yakni Rp. 2.5 Juta.

Dengan harga segitu sederet fasilitas sudah bisa dapatkan. Mulai dari Qwerty, HSDPA, Camera 2mp, Windows Mobile, GPS ready. Buat saya, perbandingan antara harga dan fitur, cukup menguntungkan konsumen.

Dan setelah saya pakai sekitar 3 bulan ini, yang paling mengesankan adalah keyboardnya yang nyaman dipakai. Saking enaknya, terkadang saya lupa kalau sms dibatasi hanya 160 sms saja.

Yang menjadi masalah adalah batereinya. Hampir setiap hari saya harus mengisi ulang. Cukup boros bahkan mungkin sangat boros kalau boleh dbilang seperti itu.

Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Ada teman bilang, kalau memakai Windows Mobile memang begitu? Benarkah seperti itu? Ada juga yang menganalisa karena saya terlalu sering mengakses internet.

Satu lagi yang membuat kurang nyaman adalah jika membuka satu aplikasi dan kemudian kita selesai tidak ada fungsi exit atau keluar dari aplikasi tersebut. Ada tombol untuk menutup, tetapi tidak sepenuhnya tertutup, tetapi masih tetap berjalan. Bisa kita lihat di Task Manager. Dan jalan keluarnya saya End Task lewat Task Manager.

Thursday, October 22, 2009

Status Facebook dan Kejadian Hari tersebut

Adakah hubungan antara keduanya? Secara logika, mungkin tidak terlihat atau bahkan memang tidak ada hubungannya. Tapi benarkah?

Dari pengalaman selama ini, jika di hari itu saya menulis status Facebook dengan nada negatif, entah kenapa sepanjang hari itu saya sering mendapatkan kesialan.

Begitu juga sebaliknya, jika nada status saya positif, keberuntungan banyak hinggap. Mungkinkah status tersebut saat saya ketik, secara tidak langsung berpengaruh dengan pola pikir kita saat itu? Sehingga aktivitas kita terpengaruh dengan pikiran kita saat itu.

Saya jadi teringat, nasihat untuk tetap berpikiran positif apapun kejadiaanya. Khusnunzdon, Berbaik sangka, mungkin begitu kata yang tepat.

Jujur saja, efek dari itu semua, sekarang saya jadi hati-hati menuliskan status Facebook saya. Tetap berpikiran positif!

Tuesday, October 20, 2009

Negeri 5 Menara dan Laskar Pelangi

Sampai hari ini N5M blm selesai saya baca. Tapi doa saya adalah semoga kejadian dengan Laskar Pelangi tak terulang lagi.

Sampai di pertengahan novel ini, tiba-tiba saya teringat sama Laskar Pelangi. Bercerita tentang dunia anak-anak, pendidikan, dan impian.

Yang satu berlatar belakang Babel, satu lagi di Ponorogo. Dua-duanya terinspirasi kehidupan masa anak-anak penulisnya.

Kesamaan lainnya adalah impian tokoh-tokohnya. Ada yang mendambakan melihat Amerika dan kehidupan orang Islam di sana. Ada pula yang bercita-cita mendirkan pesantren.

Karena blm sls membacanya ya... kesan saya sementara itu dulu.

Thursday, October 08, 2009

Antara Janji dan Kewajiban

Seorang teman tempo hari meminjamkan sebuah buku yang selama ini saya cari-cari, yakni Al-Hikam. Belum banyak yang saya baca. Tetapi dari sekian yang saya baca, ada bagian yang menarik, dan terus terngiang di pikiran.

Bahwa kita seringkali sibuk dengan apa yang sebenarnya telah dijaminkan untuk kita olehNya, tetapi melupakan kewajiban sebagai manusia.

Terus terang saya jadi teringat kembali apa yang telah saya lakukan selama ini. Tidak jauh berbeda dengan ungkapan tersebut diatas. 24 jam waktu yang ada 50% lebih buat ngurusin pekerjaan, belum hal duniawi yang lain. Duh....

Dilemanya adalah bahwa kita dituntut berusaha untuk mengubah nasib kita. Bukan siapa-siapa. Kita harus mengejar apa yang sudah dijaminkan untuk kita. Kalau tidak kita kejar, bisa jadi apa yang sudah dijaminkan tersebut tidak akan sampai ke kita.

Disisi lain, kita mempunyai sederet kewajiban kepadaNya. Dan itu sering terlupakan ditengah kesibukan keseharian kita.

Kejar Apa Yang Telah Dijanjikan
Ingat Dan Kerjakan Apa Yang Diwajibkan

Friday, November 07, 2008

Obama: A Strong Record of Supporting The Security, Peace, and Prosperity of Israel

Sekali Amerika Tetap Amerika. Masihkah berharap banyak terhadap Obama?
“Our alliance is based on shared interests and shared values. Those who threaten Israel threaten us. Israel has always faced these threats on the front lines. And I will bring to the White House an unshakeable commitment to Israel’s security…I will ensure that Israel can defend itself from any threat - from Gaza to Tehran.… Across the political spectrum, Israelis understand that real security can only come through lasting peace. And that is why we - as friends of Israel - must resolve to do all we can to help Israel and its neighbors to achieve it.”
[Obama Speech at 2008 AIPAC Policy Conference, 6/4/08]


http://origin.barackobama.com/pdf/IsraelFactSheet.pdf

Sunday, September 14, 2008

B-3-PE

BEPE, alias Bambang Pamungkas. Striker Persija sekaligus Timnas Indonesia. Salah satu pemain Indonesia paling konsisten penampilannya di lapangan bola.

Di Koran Tempo hari ini, ada kolom yang mengulas tentang BEPE, dan yang menarik ada informasi bahwa di punya website www.bambangpamungkas20.com. Iseng-iseng saya klik, dan mmmm bener-bener lain-lain dari pada yang lain. Terutama jika dibandingkan pemain bola lokal lain. Boro-boro mikir website, mikir duit dapur aja sudah pusing.

Disini bisa kita dapat banyak informasi mengenai kiprahnya dia di timnas, maupun di klubnya.

Dari sini juga kita bisa tahu bagaimana kejadian antara pelatih Libya, dan pelatih kiper Sudarno, hal itu akan sulit kita dapatkan di media cetak yang umumnya sudah antipati dengan PSSI.

Salah satu yang paling menarik adalah cerita Bambang, saat pertama kali akan ke Eropa. Dia tuangkan dalam 5 buah tulisan.

Cuma, dari sekian banyak informasi, ada satu yang paling saya cari tapi tidak ketemu. Yakni, Mengapa Bambang Pamungkas hanya 4 bulan di RODA JC, Belanda? Itu yang tidak diceritakan BEPE di bambangpamunkas20.com


Sunday, September 07, 2008

Bunga KPR & BI Rate

Kira-kira 3 hari lalu, ada sebuah amplop warna kuning tergeletak di meja kerja saya. Ada sebuah logo bank swasta disitu. Wah surat dari Bank Niaga Nih. Ada apa gerangan ya?

Secara rutin memang surat semacam itu acap kali saya terima dari Bank-bank dimana saya menjadi nasabahnya. Mulai dari urusan kartu kredit, hingga masalah KPR.

Saya dari dulu sebenarnya tidak pernah berurusan dengan Bank Niaga. Baru saat saya membeli rumah secara kredit, saya bersentuhan dengan bank ini. Dan sejak itu pula ada saja telpon yang menawarkan beberapa produknya ke saya. Ada yang saya ambil dan tidak sedikit pula yang saya tolak.

Kembali ke masalah amplop tadi, pikiran saya langsung tertuju, mungkin masalah tagihan kartu kredit, tapi kok tipis ya? Terjawablah sudah, setelah amplopnya terbuka. Kira-kira isinya sebagai berikut

... efektif tanggal 11/8/200 bunga pinjaman bapak menjadi sebagai berikut, kondisi sekarang 11.9% Anuitas menjadi 12.4% Anuitas....


Deg.... bukannya dua bulan lalu saya sudah mendapat pemberitahuan kenaikan bunga pinjaman? Sekarang naik lagi? Oh shit maan .....

Dasar rentenir..

Gila, begitu cepatnya Bank Niaga menaikkan suku bunga pinjaman, seiring dengan kenaikan BI Rate dari 8.75% di awal July menjadi 9% di 5 Agustus. Padahal diawal September ini bunga sudah naik lagi menjadi 9.25%. Wah berarti akan ada surat lagi nih dari Bank Niaga.

Ya, itulah kerakusan rentenir seperti Bank Niaga, dan juga bank-bank yang lain. Begitu cepat mereka MENAIKKAN BUNGA PINJAMAN untuk MERESPON KENAIKAN BI RATE, tetapi BANK NIAGA akan SANGAT LAMBAT MENURUNKAN SUKU BUNGA saat BI RATE TURUN!

Kalau ditarik mundur kebelakang, ini efek dari KEBIJAKAN MENAIKKAN HARGA BBM oleh SBY-JK, disaat KENAIKAN HARGA MINYAK DUNIA. Yang berujung pada kenaikan semua harga, enggak perduli harga apa saja. Naiik semua. Jadinya ya Inflasinya melonjak.

Dan SBY-JK BERTINDAK SAMA seperti RENTENIR tadi, saat HARGA MINYAK DUNIA TURUN harga BBM di Indonesia tetap diposisinya. Entah apa yang dipikirkan SBY-JK melihat ini.

TURUN akhirnya menjadi KATA TABU BAGI sebagian orang INDONESIA




Friday, August 29, 2008

Kebohongan Jusuf Kalla Terbukti Nyata

Sebuah tulisan menarik dari Farid Gaban di akhir tahun 2007 [saya ambil dari milis Jurnalisme], yang temanya sangat relevan dengan situasi saat ini, terlebih dengan rencana kenaikan secara berkala harga elpiji mulai September 2008 ini.


[Harga elpiji naik? Akhir tahun lalu saya tentang kemungkinan munculnya problem ini. Perubahan pemakaian minyak tanah ke elpiji adalah jalan melingkar pencabutan subsidi bahan bakar.-FG]

Konversi Energi dan Kebohongan Jusuf Kalla

Oleh Farid Gaban | 7 September 2007

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan program konversi energi dari
minyak tanah ke gas elpiji akan terus dijalankan dan diharapkan tuntas
pada 2011.

Menurut Kalla, program itu menguntungkan baik bagi pemerintah maupun
masyarakat. Keuntungan lain: gas elpiji lebih bersih dan ramah
lingkungan dibanding minyak tanah.

Bagi pemerintah, program itu akan mengurangi besarnya subsidi minyak
tanah yang kini mencapai sekitar Rp 60 triliun per tahun.

Bagi masyarakat, menurut Kalla, pemakaian elpiji akan menghemat
penggunaan energi rumah tangga sekitar Rp 25.000 per bulan per keluarga.

Perhitungan Kalla seperti ini:

MINYAK TANAH
Konsumsi rata-rata per bulan/keluarga: 30 liter atau Rp 75.000 (asumsi
harga Rp 2.500/liter).

ELPIJI
Konsumsi rata-rata per bulan/keluarga: 12 kg atau Rp 51.000 (asumsi
harga Rp 4.250/kg).

Walhasil, ada penghematan sebesar Rp 24.000 per bulan/keluarga.

Program ini sepintas lalu bagus dan mulia. Namun, dipandang dari sudut
pandang masyarakat, khususnya masyarakat miskin yang selama ini masih
menggunakan minyak tanah, program ini menyulitkan. Dan kemungkinan
besar lebih mahal.

Masyarakat harus membeli kompor gas baru yang harganya minimal sekitar
Rp 54.000 per buah. Belum lagi tabung gas. Kompor gas hasil tender
Pertamina ini memang jauh lebih murah dibanding harga kompor gas yang
ada di pasar (Rp 200-300 ribu), namun kualitasnya bisa dipastikan jauh
lebih rendah. Dengan kualitas rendah, kompor harus sering diperbaiki.
Orang harus mengeluarkan Rp 15.000 sekali servis.

Kesulitan lain: jika dulu orang miskin bisa membeli minyak tanah
secara eceran, sekitar Rp 2.500 per liter, kini harus membeli satuan
terkecil gas elpiji Rp 15.000 per tabung ukuran 3 kg.

Pemerintah memang juga menjanjikan kompor gas gratis kepada masyarakat
miskin. Namun seperti banyak program subsidi langsung lainnya, program
ini kedodoran di tingkat pelaksanaan. Seorang ibu rumah tangga di
Kelurahan Harjamukti, Depok, mengatakan kepada saya dia harus
menyediakan uang Rp 40-50.000 untuk mendapatkan kompor gratis itu,
hampir sama dengan harga pasar.

Taruhlah kesulitan di masa transisi konversi energi ini bisa
diabaikan. Toh masyarakat sudah terbiasa dengan kesulitan.

(Bukankah dalam jangka panjang, jika matematika Jusuf Kalla benar,
uang Rp 50.000 untuk membeli kompor tetap tak berarti bila dibanding
penghematan Rp 25.000 per bulan?)

Masalahnya adalah: akuratkah matematika Jusuf Kalla?

Jusuf Kalla membuat asumsi yang menyesatkan ketika menyebut harga gas
elpiji hanya Rp 4.250 per kg. Faktanya, harga elpiji akan segera
merangsek naik pula.

Pertamina sendiri kini sudah mengusulkan kenaikan harga elpiji, dan
pemerintah akan menyetujuinya akhir tahun ini, menjadi sekitar Rp
7.000 per kg. Diperparah oleh rendahnya kualitas distribusi, harga ini
bisa jauh lebih mahal di daerah pedalaman Sumatera atau Kalimantan.

Harga Rp 7.000 per kg ini berlaku untuk industri maupun rumah tangga
yang memiliki tabung ukuran 12 kg. Pemerintah memang masih akan
memberi subsidi untuk orang miskin (tetap Rp 4.250 per kg), meski
hampir bisa dipastikan tetap kedodoran di tingkat pelaksanaan.

Jika subsidi untuk orang miskin tidak berjalan semestinya dan orang
dekat-kemiskinan (near poor) akhirnya harus membeli gas elpiji Rp
7.000 per kg, jelaslah gugur semua argumen Jusuf Kalla bahwa konversi
energi ini menguntungkan masyarakat.

Konsumsi gas elpiji per bulan keluarga akan mencapai Rp 84.000, lebih
mahal dari pengeluaran mereka untuk minyak tanah sebelum konversi.
Belum lagi mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kompor,
tabung dan biaya servis.

Yang tersisa hanya satu: program ini hanya akan menguntungkan
pemerintah yang telah berhasil sepenuhnya menghapuskan sumbsidi energi
bagi masyarakat.

Jika subsidi dihapus, kenaikan harga gas elpiji tak terelakkan. Gas
elpiji diproses dari minyak (petrol-based), sementara Indonesia hanya
bisa memproduksi sekitar 2 juta ton per tahun, kebutuhan gas elpiji
dalam negeri pada 2010 mencapai 5-6 juta ton. Sekitar 3-4 juta ton per
tahun harus diimpor dari luar negeri, antara lain dari Jepang.

KESIMPULAN

Program konversi energi ini hanya merupakan upaya pemerintah untuk
menghapus seluruh subsidi energi, dengan cara yang melingkar.

Kebijakan ini masih selaras dengan seluruh kebijakan ekonomi
neo-liberal yang dicanangkan Pemerintahan SBY-JK sejak awalnya: hapus
subsidi, privatisasi (seluruh aspek hidup dari energi hingga air
minum), liberalisasi dagang dan investasi.

Apa hasilnya buat masyarakat?